Sabtu, 27 Desember 2014

Feature



Nama : Dwi Pratiwi
Kelas  : 1.A
NPM  : 113050006

Situs Jejak Syiar Pangeran Jaka Tawa
Lantunan suara adzan berkumandang di Masjid itu pertanda Allah SWT memanggil kita untuk berkunjung ke rumah tercintanya. Seperti riwayat Imam Muslim Rahimahullah bersabda,”Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.”(HR.Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah). Membahas mengenai masjid di sebuah daerah pasindangan tepatnya ditepi sungai Tangkil terdapat bangunan situs bersejarah diantaranya situs masjid kuno dan makam Pangeran Jaka Tawa atau disebut juga Syech Bentong yang memiliki sejarah di dalamnya.
Didasari dan di latar belakangi dari sejarah bahwa di wilayah Cirebon adalah pusat penyebaran agama Islam banyak para wali dan tokoh-tokoh lainnya yang berperan dalam penyebaran agama Islam tersebut dan sangat pantas wilayah Cirebon disebut juga sebagai daerah wali. Menurut sejarah terbentuknya masjid dan petilasan Pangeran Jaka tawa berawal dari terbentuknya Desa Pasindangan, bahwa Desa Pasindangan adalah sebuah desa yang terbentuk oleh peran Pangeran Jaka Tawa. Pasindangan dahulu kala adalah sebuah hutan di daerah Dukuh Kesenden, hutan ini dibuka menjadi sebuah perkampungan oleh Pangeran Jaka Tawa atas perintah Sunan Gunung Jati. Pangeran Jaka Tawa membangun sebuah masjid dengan nama Masjid Cipta Rasa. Dimana di masjid tersebut sering digunakan oleh para Wali untuk bersidang. karena seringnya digunakan untuk sidang maka munculah suatu penamaan atau pendukuhan yaitu Pasindangan. Penamaan desa itu terjadi pada tahun 1915.
Menurut sesepuh terdahulu dan menurut para warga Pasindangan, Pangeran Jaka Tawa  lebih di  kenal dengan nama Syech Bentong karena kerjaan sehari-harinya selalu mengupas buah gayam. Beliau tinggal sendiri disebuah gubug kecil lalu para pengikutnya ikut tinggal bersama dengan beliau. Suatu ketika para ulama dari Tiongkok mendarat di Pelabuhan Muara Jati saat itu Sunan Gunung Jati tidak dapat menemui para ulama tersebut dan pada akhirnya ulama dibawa ke pendukuhan Syech Bentong. Menurut cerita sesepuh bahwa Syech bentong sangatlah sakti sebab ketika para ulama Tiongkok ingin melakukan sholat disitu tidak ada masjid yang dapat dilihat secara kasat mata tetapi melalui bumbung atau bambu yang Syech Bentong miliki jadi ketika para ulama tersebut ingin sholat mereka harus mengeker di bumbung tersebut agar bisa melihat bahwa disitu ada masjid setelah selesai semua berubah seperti gubug, kesaktian yang dimiliki Syech Bentong membuat para ulama tidak ingin bertanding dalam pemahaman Al-Qur:an.
Pada tahun 1952 para pengikut Syech Bentong menginginkan pembangunan masjid agar orang-orang bisa sholat disitu tanpa harus melihat dalam bumbung atau bambu yang dimiliki  beliau. Beliau meminta izin kepada Kesultanan Cirebon agar masjid dibuatkan di daerah Pasindangan. Saat pembangunan masjid tersebut 4 saka diberikan oleh Kesultanan Cirebon dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa untuk membangun masjid, maka dari itu diberikan nama Masjid Cipta Rasa sama dengan masjid yang ada di Kesepuhan dalam bentuk masjid tersebut pun sama persis dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetapi dikenal sebagai Masjid Jaka Tawa. Masjid tersebut belum terbentuk dengan baik hanya sekedar digunakan untuk sholat. Masjid tersebut tidak lama direnovasi oleh pedagang dari Tiongkok yang masuk Islam dan berguru di Syech Bentong.
Namun sayangnya sejarah mengenai Pangeran Jaka Tawa tidak begitu dipublikasikan sebab ketika itu Pangeran Jaka Tawa pergi menghilang dari pendukuhan tersebut menurut cerita dari sesepuh terdahulu. Maka dari itu dibuatlah oleh para pengikutnya sebuah Petilasan Pangeran Jaka Tawa bahwa disitu ada yang pernah tinggal dan menyebarkan agama Islam, karena terdapat sebuah bukti bersejarah seperti masjid yang digunakan untuk penyebaran agama Islam, ada sebuah sumur yang konon katanya air sumur itu bagus untuk segala penyakit dan sebuah kuburan bekas peninggalan-peninggalan Pangeran Jaka Tawa.
Masjid Jaka Tawa menjadi situs bersejarah banyak penziarah datang untuk mendoakan atau kirim arwah, mandi di sumur yang konon katanya bagus untuk kesehatan, ada juga sebagai tempat bertapa atau dzikir dan ada pula hanya sekedar sholat. Jadi masjid tersebut menjadi kramat oleh para penziarah walaupun sejarahnya belum banyak orang mengetahui mengenai Pangeran Jaka Tawa tetapi adanya petilasan Pangeran Jaka Tawa memperkuat bahwa dahulu kala ada yang pernah tinggal dan menjadi saksi penyebaran agama Islam di pendukuhan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar