Nama : Dwi Pratiwi
Kelas : 1.A
NPM
: 113050006
Situs Jejak Syiar Pangeran Jaka
Tawa
Lantunan
suara adzan berkumandang di Masjid itu pertanda Allah SWT memanggil kita untuk
berkunjung ke rumah tercintanya. Seperti riwayat Imam Muslim Rahimahullah bersabda,”Bagian
negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang
paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.”(HR.Muslim dalam Kitab al-Masajid wa
Mawadhi’ as-Shalah). Membahas mengenai masjid di sebuah daerah pasindangan tepatnya
ditepi sungai Tangkil terdapat bangunan situs bersejarah diantaranya situs
masjid kuno dan makam Pangeran Jaka Tawa atau disebut juga Syech Bentong yang
memiliki sejarah di dalamnya.
Didasari
dan di latar belakangi dari sejarah bahwa di wilayah Cirebon adalah pusat
penyebaran agama Islam banyak para wali dan tokoh-tokoh lainnya yang berperan
dalam penyebaran agama Islam tersebut dan sangat pantas wilayah Cirebon disebut
juga sebagai daerah wali. Menurut sejarah terbentuknya masjid dan petilasan Pangeran
Jaka tawa berawal dari terbentuknya Desa Pasindangan, bahwa Desa Pasindangan
adalah sebuah desa yang terbentuk oleh peran Pangeran Jaka Tawa. Pasindangan
dahulu kala adalah sebuah hutan di daerah Dukuh Kesenden, hutan ini dibuka
menjadi sebuah perkampungan oleh Pangeran Jaka Tawa atas perintah Sunan Gunung
Jati. Pangeran Jaka Tawa membangun sebuah masjid dengan nama Masjid Cipta Rasa.
Dimana di masjid tersebut sering digunakan oleh para Wali untuk bersidang.
karena seringnya digunakan untuk sidang maka munculah suatu penamaan atau
pendukuhan yaitu Pasindangan. Penamaan desa itu terjadi pada tahun 1915.
Menurut
sesepuh terdahulu dan menurut para warga Pasindangan, Pangeran Jaka Tawa lebih di
kenal dengan nama Syech Bentong karena kerjaan sehari-harinya selalu
mengupas buah gayam. Beliau tinggal sendiri disebuah gubug kecil lalu para
pengikutnya ikut tinggal bersama dengan beliau. Suatu ketika para ulama dari Tiongkok
mendarat di Pelabuhan Muara Jati saat itu Sunan Gunung Jati tidak dapat menemui
para ulama tersebut dan pada akhirnya ulama dibawa ke pendukuhan Syech Bentong.
Menurut cerita sesepuh bahwa Syech bentong sangatlah sakti sebab ketika para
ulama Tiongkok ingin melakukan sholat disitu tidak ada masjid yang dapat
dilihat secara kasat mata tetapi melalui bumbung atau bambu yang Syech Bentong
miliki jadi ketika para ulama tersebut ingin sholat mereka harus mengeker di
bumbung tersebut agar bisa melihat bahwa disitu ada masjid setelah selesai
semua berubah seperti gubug, kesaktian yang dimiliki Syech Bentong membuat para
ulama tidak ingin bertanding dalam pemahaman Al-Qur:an.
Pada
tahun 1952 para pengikut Syech Bentong menginginkan pembangunan masjid agar
orang-orang bisa sholat disitu tanpa harus melihat dalam bumbung atau bambu
yang dimiliki beliau. Beliau meminta
izin kepada Kesultanan Cirebon agar masjid dibuatkan di daerah Pasindangan.
Saat pembangunan masjid tersebut 4 saka diberikan oleh Kesultanan Cirebon dari
Masjid Agung Sang Cipta Rasa untuk membangun masjid, maka dari itu diberikan
nama Masjid Cipta Rasa sama dengan masjid yang ada di Kesepuhan dalam bentuk
masjid tersebut pun sama persis dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetapi
dikenal sebagai Masjid Jaka Tawa. Masjid tersebut belum terbentuk dengan baik
hanya sekedar digunakan untuk sholat. Masjid tersebut tidak lama direnovasi
oleh pedagang dari Tiongkok yang masuk Islam dan berguru di Syech Bentong.
Namun
sayangnya sejarah mengenai Pangeran Jaka Tawa tidak begitu dipublikasikan sebab
ketika itu Pangeran Jaka Tawa pergi menghilang dari pendukuhan tersebut menurut
cerita dari sesepuh terdahulu. Maka dari itu dibuatlah oleh para pengikutnya
sebuah Petilasan Pangeran Jaka Tawa bahwa disitu ada yang pernah tinggal dan
menyebarkan agama Islam, karena terdapat sebuah bukti bersejarah seperti masjid
yang digunakan untuk penyebaran agama Islam, ada sebuah sumur yang konon
katanya air sumur itu bagus untuk segala penyakit dan sebuah kuburan bekas
peninggalan-peninggalan Pangeran Jaka Tawa.
Masjid
Jaka Tawa menjadi situs bersejarah banyak penziarah datang untuk mendoakan atau
kirim arwah, mandi di sumur yang konon katanya bagus untuk kesehatan, ada juga
sebagai tempat bertapa atau dzikir dan ada pula hanya sekedar sholat. Jadi
masjid tersebut menjadi kramat oleh para penziarah walaupun sejarahnya belum
banyak orang mengetahui mengenai Pangeran Jaka Tawa tetapi adanya petilasan
Pangeran Jaka Tawa memperkuat bahwa dahulu kala ada yang pernah tinggal dan
menjadi saksi penyebaran agama Islam di pendukuhan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar