Bunga Kuburan dan Kakek Sana
(Yuli Agustin 2B)
Usia senja bukan berarti semangat
kerja juga mulai meredup, teringat peribahasa “tua-tua- kelapa, makin tua makin
bersantan” begitulah mengibaratkan mereka yang sudah berumur namun masih
produktif bekerja. Bapak sana adalah salah satunya, kakek berusia satu abad ini
diusianya yang terbilang sudah sangat renta itu namun beliau masih gigih
bekerja. Setiap hari beliau mencari bunga kamboja yang biasanya tumbuh di
kuburan. Bunga kamboja yang mendapat julukan bunga menyeramkan karena banyak
tumbuh di sekitaran kuburan. bagi sebagian orang bunga ini sering dipandang
sebelah mata tetapi justru bagi beliau bunga kamboja ini adalah sumber ekonomis
sebagai rezeki yang bisa menyambung kehidupanya.
Setiap hari beliau pergi mencari
bunga kamboja di kuburan-kuburan yang berada di desa kamarang. Dengan
bermodalkan sebuah kantong plastik ditangannya
tubuh renta itu siap melangkah mencari bunga kamboja yang telah
berguguran di tanah. tubuhnya ringkih, langkahnya tidak lagi gagah, rambut yang
memutih dengan sempurna begitulah keadaan diri kakek sana. Kakek sana menjadi
pemulung bunga kamboja ini sudah dilakoninya semenjak 8 tahun yang lalu sampai
sekarang. Pekerjaan ini beliau pilih karena memang tidak ada lagi pekerjaan lain
mengingat usianya sudah sangat tua sehingga sudah tidak mampu lagi untuk
melakukan pekerjaan yang berat “pekerjaan ini lumayan ringan, dibandingkan
pekerjaan lain sebab kondisi sudah tidak memungkinkan jika bekerja yang berat,
jadi saya sangat mencintai pekerjaan ini” begitu tuturnya.
Bunga-bunga kamboja yang telah didapatkan
oleh beliau setiap harinya kemudian dikumpulkan lalu dijemurnya sampai menjadi
sangat kering, sebab bunga kamboja yang basah tentu tidak akan laku untuk
dijual karena hanya bunga kamboja keringlah yang akan bisa dijual kepengepul.
Bunga kamboja kering itu nantinya akan dijadikan sebagai salah satu bahan untuk
membuat minyak wangi. Namun bapak sana tidak bisa menjual bunga kamboja setiap
hari dikarenakan bunga kamboja yang di dapat jumlahnya sedikit, apalagi musim
hujan seperti sekarang ini bunga kamboja susah didapat, Kecuali pada musim
kemarau bunga kamboja yang didapatkan jumlahnya akan jauh lebih banyak. Beliau
baru bisa menjualnya dua minggu sekali karena harus dikumpulkan agar jumlah
timbanganya banyak. Hasil penjualan dari bunga kamboja ini memang tidak
seberapa hanya cukup untuk makan sehari-harinya, Karena perkilonya hanya
dihargai tujuh ribu rupiah, harga bunga kamboja saat ini memang sangat murah
dibandingkan tahun-tahun yang lalu yang dihargai hingga mencapai tujuh puluh
ribu per kilonya.
Beliau memang mempunyai tujuh orang
anak yang siap mengurusnya tanpa harus beliau bekerja lagi, namun baginya
selagi kondisi badan masih sehat ia tidak ingin terlalu bergantung pada
anak-anaknya “anak-anak semuanya sudah
berumahtangga, mereka punya kebutuhan masing-masing jadi selama masih mampu
untuk mencari rezeki ya dikerjakan saja” begitu tuturnya. Beliau juga
menambahkan “selain karena memang untuk menghasilkan uang, pilihan menjadi seorang
pemulung bunga kamboja juga dikarenakan memang karena rasa setianya pada
pekerjaan ini”. Beliau sangat bersyukur di usianya yang sudah satu abad ini
masih diberikan kesehatan jika dibandingkan dengan orang-orang yang seusinya.
Mencari bunga kamboja baginya suatu aktivitas yang menyenangkan dibanding hanya
berdiam diri di rumah.
Semangat kakek sana ini memang
sangat luar biasa, jika sebagian orang memilih menghabiskan masa tuanya hanya
dengan berdiam dirumah berkumpul bersama keluarga mereka, namun tidak dengan
beliau. Masa tua bukan menjadi halangan untuk tetap bekerja. Ini menginspirasi
anak-anak muda supaya hidup tidak hanya untuk berleha-leha, selama masih ada
yang mampu untuk dikerjakan maka kerjakanlah.
