Sabtu, 03 Januari 2015

Surat Kabar



Surat Kabar
Oleh : Khikmatul Maola


Pelayanan Puskesmas Membingungkan
Pada tanggal 8 Oktober lalu saya mengantar ibu perikisa ke puskesmas di daerah Talun Kab.Cirebon, seperti pasien biasanya kami mendaftar terlebih dahulu, setelah mendaftar ibu saya mendapat nomor antrian kemudian kami mengantri di tempat tunggu. Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya ibu dipanggil keruang dokter, setelah ibu periksa dokter memberi resep untuk di serahkan ke petugas oabat, akan tetapi kali ini dokter tidak langsung memberikannya kepada ibu. Beliau bilang resepnya nanti akan diserahkan kepada petugas yang berjaga, dokter menyuruh kami keluar dan menunggu resep panggilan resep.
Hampir satu jam kami menunggu resep tapi tak ada suara yang memanggil ibu saya untuk mengambil resep tersebut, kemudian saya menanyakan kepada petugas resep, beliau bilang sebentar lagi, dokter belum menyerahkan resepnya, saya dan ibu menunggu kembali. Setelah lama menunggu akhirnya saya tidak sabar lagi, kemudian saya langsung nyerobot masuk ruang dokter menanyakan resep tersebut, dokter bilang resep itu sudah diserahkan ke petugas resep, akan tetapi pas waktu saya bertanya kepada petugas itu katanya belum di kasih. Akhirnya saya kembali lagi keruang resep dan menanyakannya kembali. Betul saja resep itu sebetulnya sudah di kasihkan ke tempat pengambilan obat. Membingungkan cetus saya, dokter bilang resep di kasihkan ke petugas, kemudian petugas itu akan memenggil pasien untuk mengambil resep baru kemudian pasien menyerahkan resep ke petugas obat untuk mengambil obat. Tapi ini bukan seperti prosedur yang ada, kami dibuat bingung oleh petugas-petugas puskesmas.

Feature

Nama : Khikmatul Maola
Kelas : 2 A
 “Feature”

Guntur dan Profesi Uniknya
Menjadi Seorang Dalang Layar Tancap yang Sukses

Berkat kerja kerasnya selama ini guntur sekarang sudah sangat mahir menjalankan profesi yang sudah dirintis oleh ayahnya sejak dulu. Guntur merasa bangga bisa menjalankan profesi ini, sebab bukan hanya profesi kerja semata melainkan dengan profesi ini ia bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Profesi menjadi seorang dalang layar tancap ini sudah ia tekuni selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini, seletah ayahnya meninggal dunia pada tahun 2008. Pada waktu ayahnya meninggal dunia guntur masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Industri perfileman layar tancap pada waktu itu sangat booming dikalangan masyarakat Cirebon khususnya pada waktu hajatan, akan tetapi setelah ayahanda guntur meninggal dunia usaha layar tancap yang dikelola bapak Sanusi ini sempat fakum beberapa tahun yang lalu. “Pada waktu itu saya masih duduk di bangku SMA dan tidak pernah memikirkan bagaimana caranya agar usaha ayah ini tetap berjalan”  ujar Guntur.
            Setelah guntur lulus SMA, ibunda guntur mulai kebingungan bagaimana caranya guntur bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sebab tidak ada biaya untuk melanjutkan guntur kuliah disamping itu juga masih ada kedua adiknya yang masih bersekolah di bangku SD dan SMP.  Mengingat tidak ada pemasukan tambahan yang lebih selain usaha ibu Ena yang menjadi pedagang nasi. “setelah suami saya meninggal dunia, saya bingung bagaimana caranya saya menafkahi anak-anak, akhirnya saya mencoba berjualan nasi di pagi hari untuk menyambung hidup, walaupun ada usaha layar tancap yang sudah suami saya kelola akan tetapi saya tidak tau bagaimana mengelola usaha tersebut, karena banyak hal yang tidak saya kuasai dalam usaha itu” tutur ibu Ena.


Tak Pernah Berfikir Menjadi Dalang Layar Lebar
            Akhirnya setelah ibu Ena dan Guntur musyawarah memikirkan nasib hidupnya kedepan, ibu Ena menyuruh guntur untuk melanjutkan usaha ayahnya itu, biar bagaimanapun guntur dan adik-adiknya harus tetap bersekolah, meskipun guntur tidak ada keahlian sama sekali dalam profesi ini namun semangat guntur ingin kuliah akhirnya ia bertekad melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi dalang layar tancap di usianya yang masih muda. Sebab dulu guntur tidak pernah berminat untuk menjadi seorang dalang layar tancap seperti ayahnya, ia berfikir menjadi seorang dalang layar tancap itu tidak berarti apapun karena bekerja diwaktu malam hari dimana sebagian orang sedang menikmati waktu istirahatnya tapi dalang layar tancap malah menghibur orang lain diwaktu malam tiba. Maka dari itu ia tidak pernah memperhatikan seluk beluk layar tancap. Akan tetapi ketidak sukaannya sewaktu dulu sekarang guntur dituntut untuk menyukai layar tancap biar bagaimanapun hidup tetap berjalan guntur dan adik-adiknya harus tetap sekolah, karena keadaan itulah akhirnya guntur mulai belajar tentang seluk beluk layar tancap, karena tidak mudah memang menjadi dalang layar tancap, banyak hal yang harus di kuasai bukan hanya memasang layar lebar saja akan tetapi seorang dalang layar tancap harus paham betul tentang sound, alat roll pemutaran film, efek cahaya (lighting) yang sempurna, memahami perfileman yang akan diputarkan, mengetahui tentang efek gambar yang sempurna pada saat film ditampilkan. Semua ilmu seluk beluk layar tancap guntur belajar dari pak Asep teman seprofesi ayahnya dulu.
Sebelum guntur turun langsung kelapangan, ia selalu ikut dengan pak asep pada saat tampil, ia mulai mengamati dengan serius bagaimana menjalankan film mulai dari pemasangan sampai pemutaran film dengan hasil yang sempurna. “Menjadi dalang layar tancap harus serius memang kelihatannya tidak serumit profesi lain akan tetapi jika kita tidak mengetahui betul tentang alat-alat film maka hasilnya pun akan tidak baik” ujar pak Asep. Guntur selalu mengingat ucapan pak asep tersebut, karena baimanapun jika kita tidak serius belajar maka akan tidak maksimal pula hasilnya, guntur tidak mau setengah-setengah menjalankan profesi ini walaupun usianya masih muda tetapi semangatnya sangat luar biasa. “hidup adalah perjuangan yang harus kita jalankan dan pertaruhkan walaupun banyak gelombang yang menghadang, tapi kita harus semangat menjalankan hidup tidak mudah goyah oleh terpaan angin” tutur Guntur. Begitulah prinsip hidup guntur untuk tetap menjalankan kehidupannya.

Tawaran Pemutaran Film
            Setelah dirasa cukup menguasai tentang perfileman layar tancap akhirnya guntur mencoba memberanikan diri untuk pemutaran film tanpa ditemani oleh pak asep, tawaran pertama yang ia terima setelah pembukaan kembali layar tancap, guntur mendapat order itupun dari pak asep yang sengaja memberikan job kepadanya, pengalaman pertama guntur pada saat pemutaran film ini sangat dirasakan olehnya sebagai tantangan baru dalam hidupnya, guntur tidak sendirian ia membawa sahabatnya untuk membatu mempersiapkan segala sesuatunya, “saya tidak bisa sendirian, itu akan membuat saya sangat kerepotan akhirnya saya membawa Arman sahabat dekat untuk membantu serta menemani saya” ujar Guntur. Setelah selesai pemutaran film di salah satu hajatan kami diberi honor sebesar 2juta rupiah, hasil itupun ia tidak mengetahui sebelumnya, sebab awalnya job ini dipernenalkan oleh pak asep, dan beliau tidak memberitahu kepada guntur masalah honor, pada waktu itu guntur tidak begitu memikirkan honor karena baginya yang penting profesi ini berjalan dengan lancar terlebih dahulu. Setelah penampilan guntur yang pertama ini, akhirnya pak asep memberitahu guntur bahwasanya rata-rata tarif setiap kali pemutaran film dari jam 20.40-24.40 itu sebesar 2 juta rupiah. Dan barulah saat itu guntur mengetahuinya.

Penghasilan Yang Diterima Untuk Biaya Pendidikan
            Setelah berjalan beberapa bulan usaha film yang guntur kelola itu guntur mendapat banyak tawaran job, akhirnya guntur mulai memikirkan dirinya untuk kuliah dengan penghasilan seperti ini dia rasa cukup untuk biaya sekolah beserta adik-adiknya, terlebih ibundanya berjualan nasi. “ saya bersyukur guntur tidak mengeluh menjalankan profesi ini, guntur senantiasa bersemangat walaupun anak seusianya malah asik bermain dan tidak usah pusing-pusing memikirkan beban keluarga, tapi guntur tidak keberatan menjadi seorang dalang layar tancap,” pujinya.
Guntur mulai sibuk memikirkan untuk melanjutkan kuliah, sebab setelah lulus dari SMA ia tidak langsung melanjutkan kuliahnya, guntur memilih berhenti terlebih dahulu selama kurun waktu 1 tahun, ia memfokuskan diri belajar menjadi seorang dalang layar tancap yang profesional. “saya akan tetap menjadi dalang layar tancap walaupun bertambah kesibukan menjadi mahasiswa saya akan tetap menjalankan profesi ini” tegasnya. Pendidikan itu penting jadi sebisa mungkin guntur tetap kuliah, dan setelah guntur memilih perguruan tinggi yang ada di kota Cirebon, akhirnya guntur masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta dengan mengambil jurusan Teknik Informatika.

Eksistensi Industri Rotan Menurun


Eksistensi Industri Rotan Menurun
Oleh : Khikmatul Maola
(Mahasiswi Fakultas Pendidikan dan Sastra Indonesia
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon)

Tak ada rotan rakyat menjerit
Imbas dari gagal produksi menyebabkan pengangguran, karena tak ada rotan nasib rakyat pun tak ada

Lesunya industri rotan dalam negeri dinilai bukan karena kesalahan pengusaha, tetapi justru karena kesalahan kebijakan pemerintah RI. Dengan kebijakan Menteri Perdagangan yang mengizinkan ekspor bahan baku rotan sejak 2005, maka kompetitor di luar negeri yang sebelumnya mati sekarang bisa berproduksi lagi karena mendapatkan bahan baku dari Indonesia.
          Dengan keadaan seperti ini, penurunan produksi mencapai 70% dan berdampak pada pengangguran. Karena industri kerajinan rotan ini adalah indus­tri padat karya yang banyak me­nyerap tenaga kerja baik yang langsung maupun tidak langsung. Memang dari kementerian lain, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kehutanan telah berupaya untuk menghapus kebijakan ekspor bahan baku rotan tetapi tidak digubris.
Dulu pemerintah berharap dengan ekspor bahan baku ini ingin mendapatkan pajak ekspor tapi nyatanya karena ada manipulasi kuota, yang kena pajak hanya sedikit dari kuota riil yang diekspor. Sekarang memang sulit untuk mendapatkan bahan baku rotan. Untuk ukuran tertentu, barangnya tidak ada dalam order yang sedikit, apalagi order jumlah banyak. Sekarang dengan membuka ekspor bahan baku, sejumlah negara lain pun ramai-ramai menjadi produsen furnitur rotan. Sedangkan pekerja rotan banyak yang menganggur lantaran di Cirebon banyak perusahaan yang gulung tikar. Sebetulnya Kementerian Perindustrian sama misinya yaitu memproduksi dalam negeri dengan mengekspor barang jadi.
Kerajinan rotan memang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Cirebon, karena memang mayoritas masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi sehingga memilih untuk menjadi buruh di perusahan rotan. Jika setiap perusahaan rotan yang ada di Cirebon semuanya mengalami penurunan produksi, maka bisa jadi masyarakat akan kehilangan mata pencahariannya, meskipun tidak sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia di kota Cirebon. Banyak masyarakat yang bergantung nasib pada kerajinan rotan ini, bukan hanya itu kerajinan rotan juga menjadi salah satu potensi lokal yang ada di Cirebon. Sudah seharusnya potensi ini di lestarikan, karena tidak menutup kemungkinan jika terus di biarkan seperti ini maka kelestarian kerajinan rotan akan mengalami kepunahan. Terlebih banyak pesaing yang lebih inovatif dalam kerajinan rotan di daerah lain bahkan sekarang sudah merambah di luar negeri. Bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi juga tugas kita untuk melestarikan potensi lokal ini.

Dampak yang terjadi
Imbas dari semua itu meningkatnya jumlah pengangguran di Cirebon, meskipun tak ada data yang nyata tapi mungkin saja faktor banyaknya pengangguran mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi mikro karena menurunnya daya beli masyarakat dikarenakan hilangnya mata pencaharian. Hasil penelitian yang didapat dari salah satu perusahaan rotan di Cirebon, CV. Mutiara Rotan, mengalami terjadinya penurunan tingkat kegagalan produksi yang dihasilkan selama kurun waktu tiga tahun yaitu dari tahun 2005-2007. Pada tahun 2005 terjadi kegagalan sebesar 4,4%, pada tahun 2006 terjadi kegagalan sebesar 3,2%, pada tahun 2007 sebesar 1,5%. Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan yaitu adanya pemborosan bahan baku akibat kegagalan produk, sehingga terjadi penambahan biaya produksi.
Di samping itu juga, untuk pemasaran kerajinan rotan mengalami sedikit kendala, sebab para pengrajin sudah banyak yang mengalami pengangguran. Oleh karena itu, para konsumen kesulitan untuk menemukan kerajinan rotan yang unik maupun berkualitas, sehingga pengusaha rotan bener-bener mengalami penurunan produksi. Dalam memproduksi kerajinan rotan memang di butuhkan keahlian untuk hasil yang sempurna, jika para pengrajin kurang memiliki kreativitas maka tidak mungkin produksi rotan akan mengalami penurunan terus menerus. Kebakaran hutan pun menjadi salah satu pemicu menurunnya produksi rotan, sebab bahan baku yang diperoleh akan mengalami kesulitan.

Upaya
Dalam menghadapi hambatan produksi rotan yaitu menerapkan dan meningkatkan pengendalian produksi guna meminimalkan tingkat kegagalan / kecacatan produk yang dihasilkan. Perusahaan lebih meningkatkan pelaksanaan pengendalian produksi, memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pengandalian produksi seperti faktor tenaga kerja, mesin-mesin, metode, pengadaan bahan baku, kondisi kerja, motivasi maupun keuangan, agar pengendalian kualitas yang diterapkan berjalan maksimal. Dalam proses produksi rotan juga, perlu melakukan Pengendalian produksi dengan tujuan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan sehingga kegagalan kegagalan produk bisa dicegah. Dengan begitu biaya produksi dapat diminimalkan pula. Berdasarkan hasil penelitian di CV. Mutiara Rotan, ditemukan beberapa masalah dalam perusahaan yaitu adanya pengerjaan ulang dalam proses produksi sehingga terjadi keterlambatan dan pemborosan bahan baku serta adanya kerugian atau penambahan biaya akibat kegagalan produk yang dihasilkan.
Pemerintah sudah seharusnya membatasi kuota ekspor bahan baku ke luar negeri dengan tujuan supaya pengusaha rotan tidak mengalami kesulitan mendapatkan rotan dengan jumlah banyak. Pemerintah seharusnya lebih seleksi dan teliti jika mengekspor bahan baku sehingga tidak ada manipulasi kuota yang merugikan itu, bukan hanya membatasi ekspor tetapi pemerintah kehutanan pun seharusnya memperhatikan hutan rotan tetap terlindungi dan memberikan sangsi atau denda kepada orang yang merusak hutan, membakar hutan maupun penebangan liar yang besar-besaran. Sehingga dengan adanya hukuman seperti itu di harapkan hutan rotan tetap terjaga dan bisa menghasilkan pohon rotan yang baik dan berkualitas.