Nama
: Khikmatul Maola
Kelas
: 2 A
“Feature”
Guntur
dan Profesi Uniknya
Menjadi Seorang Dalang Layar Tancap yang Sukses
Berkat
kerja kerasnya selama ini guntur sekarang sudah sangat mahir menjalankan
profesi yang sudah dirintis oleh ayahnya sejak dulu. Guntur merasa bangga bisa
menjalankan profesi ini, sebab bukan hanya profesi kerja semata melainkan
dengan profesi ini ia bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.
Profesi
menjadi seorang dalang layar tancap ini sudah ia tekuni selama kurang lebih
3 tahun belakangan ini, seletah ayahnya meninggal dunia pada tahun 2008. Pada
waktu ayahnya meninggal dunia guntur masih duduk di bangku sekolah menengah
atas. Industri perfileman layar tancap pada waktu itu sangat booming dikalangan
masyarakat Cirebon khususnya pada waktu hajatan, akan tetapi setelah ayahanda
guntur meninggal dunia usaha layar tancap yang dikelola bapak Sanusi ini sempat
fakum beberapa tahun yang lalu. “Pada waktu itu saya masih duduk di bangku SMA
dan tidak pernah memikirkan bagaimana caranya agar usaha ayah ini tetap
berjalan” ujar Guntur.
Setelah
guntur lulus SMA, ibunda guntur mulai kebingungan bagaimana caranya guntur bisa
masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sebab tidak ada biaya untuk
melanjutkan guntur kuliah disamping itu juga masih ada kedua adiknya yang masih
bersekolah di bangku SD dan SMP.
Mengingat tidak ada pemasukan tambahan yang lebih selain usaha ibu Ena
yang menjadi pedagang nasi. “setelah suami saya meninggal dunia, saya bingung
bagaimana caranya saya menafkahi anak-anak, akhirnya saya mencoba berjualan
nasi di pagi hari untuk menyambung hidup, walaupun ada usaha layar tancap yang
sudah suami saya kelola akan tetapi saya tidak tau bagaimana mengelola usaha
tersebut, karena banyak hal yang tidak saya kuasai dalam usaha itu” tutur ibu
Ena.
Tak Pernah Berfikir Menjadi Dalang
Layar Lebar
Akhirnya
setelah ibu Ena dan Guntur musyawarah memikirkan nasib hidupnya kedepan, ibu Ena
menyuruh guntur untuk melanjutkan usaha ayahnya itu, biar bagaimanapun guntur
dan adik-adiknya harus tetap bersekolah, meskipun guntur tidak ada keahlian
sama sekali dalam profesi ini namun semangat guntur ingin kuliah akhirnya ia
bertekad melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi dalang layar tancap di
usianya yang masih muda. Sebab dulu guntur tidak pernah berminat untuk menjadi
seorang dalang layar tancap seperti ayahnya, ia berfikir menjadi seorang dalang
layar tancap itu tidak berarti apapun karena bekerja diwaktu malam hari dimana
sebagian orang sedang menikmati waktu istirahatnya tapi dalang layar tancap malah
menghibur orang lain diwaktu malam tiba. Maka dari itu ia tidak pernah
memperhatikan seluk beluk layar tancap. Akan tetapi ketidak sukaannya sewaktu
dulu sekarang guntur dituntut untuk menyukai layar tancap biar bagaimanapun
hidup tetap berjalan guntur dan adik-adiknya harus tetap sekolah, karena
keadaan itulah akhirnya guntur mulai belajar tentang seluk beluk layar tancap,
karena tidak mudah memang menjadi dalang layar tancap, banyak hal yang harus di
kuasai bukan hanya memasang layar lebar saja akan tetapi seorang dalang layar
tancap harus paham betul tentang sound, alat roll pemutaran film, efek cahaya
(lighting) yang sempurna, memahami perfileman yang akan diputarkan, mengetahui
tentang efek gambar yang sempurna pada saat film ditampilkan. Semua ilmu seluk
beluk layar tancap guntur belajar dari pak Asep teman seprofesi ayahnya dulu.
Sebelum guntur turun
langsung kelapangan, ia selalu ikut dengan pak asep pada saat tampil, ia mulai
mengamati dengan serius bagaimana menjalankan film mulai dari pemasangan sampai
pemutaran film dengan hasil yang sempurna. “Menjadi dalang layar tancap harus
serius memang kelihatannya tidak serumit profesi lain akan tetapi jika kita
tidak mengetahui betul tentang alat-alat film maka hasilnya pun akan tidak
baik” ujar pak Asep. Guntur selalu mengingat ucapan pak asep tersebut, karena
baimanapun jika kita tidak serius belajar maka akan tidak maksimal pula
hasilnya, guntur tidak mau setengah-setengah menjalankan profesi ini walaupun
usianya masih muda tetapi semangatnya sangat luar biasa. “hidup adalah
perjuangan yang harus kita jalankan dan pertaruhkan walaupun banyak gelombang
yang menghadang, tapi kita harus semangat menjalankan hidup tidak mudah goyah
oleh terpaan angin” tutur Guntur. Begitulah prinsip hidup guntur untuk tetap
menjalankan kehidupannya.
Tawaran Pemutaran Film
Setelah
dirasa cukup menguasai tentang perfileman layar tancap akhirnya guntur mencoba
memberanikan diri untuk pemutaran film tanpa ditemani oleh pak asep, tawaran
pertama yang ia terima setelah pembukaan kembali layar tancap, guntur mendapat
order itupun dari pak asep yang sengaja memberikan job kepadanya, pengalaman
pertama guntur pada saat pemutaran film ini sangat dirasakan olehnya sebagai
tantangan baru dalam hidupnya, guntur tidak sendirian ia membawa sahabatnya
untuk membatu mempersiapkan segala sesuatunya, “saya tidak bisa sendirian, itu
akan membuat saya sangat kerepotan akhirnya saya membawa Arman sahabat dekat
untuk membantu serta menemani saya” ujar Guntur. Setelah selesai pemutaran film
di salah satu hajatan kami diberi honor sebesar 2juta rupiah, hasil itupun ia
tidak mengetahui sebelumnya, sebab awalnya job ini dipernenalkan oleh pak asep,
dan beliau tidak memberitahu kepada guntur masalah honor, pada waktu itu guntur
tidak begitu memikirkan honor karena baginya yang penting profesi ini berjalan
dengan lancar terlebih dahulu. Setelah penampilan guntur yang pertama ini,
akhirnya pak asep memberitahu guntur bahwasanya rata-rata tarif setiap kali
pemutaran film dari jam 20.40-24.40 itu sebesar 2 juta rupiah. Dan barulah saat
itu guntur mengetahuinya.
Penghasilan Yang Diterima Untuk
Biaya Pendidikan
Setelah
berjalan beberapa bulan usaha film yang guntur kelola itu guntur mendapat
banyak tawaran job, akhirnya guntur mulai memikirkan dirinya untuk kuliah
dengan penghasilan seperti ini dia rasa cukup untuk biaya sekolah beserta
adik-adiknya, terlebih ibundanya berjualan nasi. “ saya bersyukur guntur tidak
mengeluh menjalankan profesi ini, guntur senantiasa bersemangat walaupun anak
seusianya malah asik bermain dan tidak usah pusing-pusing memikirkan beban
keluarga, tapi guntur tidak keberatan menjadi seorang dalang layar tancap,” pujinya.
Guntur mulai sibuk
memikirkan untuk melanjutkan kuliah, sebab setelah lulus dari SMA ia tidak
langsung melanjutkan kuliahnya, guntur memilih berhenti terlebih dahulu selama
kurun waktu 1 tahun, ia memfokuskan diri belajar menjadi seorang dalang layar tancap
yang profesional. “saya akan tetap menjadi dalang layar tancap walaupun bertambah
kesibukan menjadi mahasiswa saya akan tetap menjalankan profesi ini” tegasnya. Pendidikan
itu penting jadi sebisa mungkin guntur tetap kuliah, dan setelah guntur memilih
perguruan tinggi yang ada di kota Cirebon, akhirnya guntur masuk kesalah satu
perguruan tinggi swasta dengan mengambil jurusan Teknik Informatika.