NAMA:
Winda Nurfiana (113050042)
KELAS
: 2B
TIADA
HARI TANPA GRIBIK

Sepasang suami istri yang tak pernah
lelah merangkai sepotong bambu bambu tipis yang tercecer di halaman rumahnya, satu
persatu sepotong bambu di rangkai yang menghasilkan sebuah anyaman bambu
cantik. sang istri yang sedang duduk
berjongkok dan kedua tangannya sedang menganyam lembaran-lembaran bambu
tersebut sehingga menghasilkan karya yang bernilai sedangkan sang suami sedang
membelahi bambu yang masih utuh, yang
kemudian dijemur hingga kering.
Sang istri yang bernama Ibu Nengsih
dan suami yang bernama Bapak Sunadi sepasang suami istri berprofesi sebagai pengusaha anyaman bambu
yang bertempat tinggal di kawasan Cibogo. Mereka merintis usaha ini sejak awal
pernikahan mereka beberapa tahun lalu, yang meneruskan usaha keluarganya. Dari
mulai pagi, siang hingga larut malam,mereka menganyam tanpa mengenal lelah demi
menghidupi keluarganya.
Terdapat dua jenis anyaman bambu
yang mereka kerjakan, yaitu anyaman bambu polos atau yang biasa dan anyaman
bambu bermotif batik. Bahan bambu yang digunakan diperoleh dari daerah sunda
seperti kuningan, majalengka dan kota lainnya. Sedangankan “untuk yang bermotif
batik impor dari Bandung” ujarnya.
Anyaman bambu yang bermotif polos dijual seharga Rp 40.000,00- sedangkan
untuk anyaman bermotif batik dijual seharga Rp 55.000,00- tetapi jika anyaman
tersebut dijual kepada para bakul harganya menjdi setengah harga. Oleh karena
itu ibu nengsih lebih memilih menjual produk anyaman bambunya secara langsung kepada
konsumen selain penghasilannya lebih menguntungkan sebanding juga dengan kerja
keras yang mereka lakukan.
Anyaman bambu ini ibu nengsih
namakan Gribik, karena keahlian mereka hanya bisa membuat gribik, untuk
menganyam gribik atau anyaman bambu dibutuhkan ketelitian yang jeli dan
berhati-hati saat menganyam karena sekali lunglai ketika menganyam jari-jari
kita bisa terluka.
Usaha menganyam ini dilakukan hanya
berdua saja ibu nengsih dan suaminya bapak sunadi, tidak ada pekerja lain
karena menurut ibu nengsih usahanya ini
hanya sebagai usaha kecil-kecilan, dan tidak mampu untuk membayar upah
karyawan. Ibu nengsih lebih memilih menjadi pengusaha ini karena selain
susahnya mencari lapangan pekerjaan, ibu nengsih hanya lulusan sekolah dasar
sehingga ibu nengsih mengurungkan niatnya untuk mencari pekerjaan lain “saya hanya bisa menganyam, dari kecil atau
remajaan sudah terbiasa melihat orang tua saya menganyam, jadi saya manfaatkan
keahlian yang diwariskan dari orang tua saya dengan menganyam gribik ini”
ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar