Sabtu, 27 Desember 2014

Feature tiada hari tanpa gribik



NAMA: Winda Nurfiana (113050042)
KELAS : 2B
TIADA HARI TANPA GRIBIK
Description: D:\loplk.jpg
            Sepasang suami istri yang tak pernah lelah merangkai sepotong bambu bambu tipis yang tercecer di halaman rumahnya, satu persatu sepotong bambu di rangkai yang menghasilkan sebuah anyaman bambu cantik.  sang istri yang sedang duduk berjongkok dan kedua tangannya sedang menganyam lembaran-lembaran bambu tersebut sehingga menghasilkan karya yang bernilai sedangkan sang suami sedang membelahi  bambu yang masih utuh, yang kemudian dijemur hingga kering.
            Sang istri yang bernama  Ibu Nengsih  dan suami yang bernama Bapak Sunadi sepasang suami istri  berprofesi sebagai pengusaha anyaman bambu yang bertempat tinggal di kawasan Cibogo. Mereka merintis usaha ini sejak awal pernikahan mereka beberapa tahun lalu, yang meneruskan usaha keluarganya. Dari mulai pagi, siang hingga larut malam,mereka menganyam tanpa mengenal lelah demi menghidupi keluarganya.
            Terdapat dua jenis anyaman bambu yang mereka kerjakan, yaitu anyaman bambu polos atau yang biasa dan anyaman bambu bermotif batik. Bahan bambu yang digunakan diperoleh dari daerah sunda seperti kuningan, majalengka dan kota lainnya. Sedangankan “untuk yang bermotif batik impor dari Bandung” ujarnya.
              Anyaman bambu yang bermotif polos dijual seharga Rp 40.000,00- sedangkan untuk anyaman bermotif batik dijual seharga Rp 55.000,00- tetapi jika anyaman tersebut dijual kepada para bakul harganya menjdi setengah harga. Oleh karena itu ibu nengsih lebih memilih menjual produk anyaman bambunya secara langsung kepada konsumen selain penghasilannya lebih menguntungkan sebanding juga dengan kerja keras yang mereka lakukan.
            Anyaman bambu ini ibu nengsih namakan Gribik, karena keahlian mereka hanya bisa membuat gribik, untuk menganyam gribik atau anyaman bambu dibutuhkan ketelitian yang jeli dan berhati-hati saat menganyam karena sekali lunglai ketika menganyam jari-jari kita bisa terluka.
            Usaha menganyam ini dilakukan hanya berdua saja ibu nengsih dan suaminya bapak sunadi, tidak ada pekerja lain karena  menurut ibu nengsih usahanya ini hanya sebagai usaha kecil-kecilan, dan tidak mampu untuk membayar upah karyawan. Ibu nengsih lebih memilih menjadi pengusaha ini karena selain susahnya mencari lapangan pekerjaan, ibu nengsih hanya lulusan sekolah dasar sehingga ibu nengsih mengurungkan niatnya untuk mencari pekerjaan lain  “saya hanya bisa menganyam, dari kecil atau remajaan sudah terbiasa melihat orang tua saya menganyam, jadi saya manfaatkan keahlian yang diwariskan dari orang tua saya dengan menganyam gribik ini” ujarnya.
                Description: F:\IMG_20141212_182557.jpg Description: F:\IMG_20141212_182549.jpg            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar