Sabtu, 27 Desember 2014

Feature



LANGIT-LANGIT RUMAH DENGAN AYAMAN BAMBU DARI CIBOGO
Description: F:\anyamammm.jpg

            Anyaman dari zamannya SD sudah di ajarakan kreasi atau kerajinan dari anyaman dengan mata pelajaran seni budaya. Dengan berbagai model anyaman Ibu Ningsih yang berumur 38 tahun dan mempunyai dua orang anak ini sangat menyukai kerajinan anyaman, dari situlah Ibu Ningsih menekuni usahanya dengan membuat anyaman dari bambu untuk felafon rumah yang menggunakan anyaman bambu. Ketika kami menemui Ibu Ningisi di kediamannya, pada jumat siang tanggal 12 Desember 2014 yang beralamat di Blok Cibogo, Desa Warukawung, Kec Depok, Kab Cirebon. Ketika tiba-tiba kami datang kekediamannya Ibu Ningsih sangat terkejut atas kedatang kami ini yang begitu tiba-tiba dan di temani oleh Ibu Titin tetangga dari Ibu Ningsih. Dan kami bisa berbincang menayakan bagaimana proses pembuatan anyaman bambu tersebut dan kenapa menekuni usaha ayaman bamboo.
            Ibu Ningsih bersama sang suami Bapak Sunadi menekruskan usaha keluarganya tersebut, sejak awal pernikahannya dan sampai sekarang usaha itu masih berjalan dengan lancer. Ibu Ningsih hanya bertugas menganyam bambu sampe bambu tersebut mempunyai motif, sedangkan suami Ibu Ningsih bertugas memotong bambu, menguliti bambu, hingga menjadi lembaran-lembaran tipis kemudian dijemur.
            Hari itu cuaca mendung dan Ibu Ningsih kurang begitu suka. Karena bambu yang sudah dikuliti dan dijemur tidak akan bisa kering, ini adalah kendala bagi Ibu Ningsih dan sang suami Bapak Sunadi tidak bisa membuat anyaman bambu karena bahan yang akan di buatnya tidak kering cuaca sangat mempengaruhi usaha yang sedang di gelutinya.
            Menganyam bambu harus teliti karena salah sedikit saja hasil anyaman bambu tidak akan sempurna dan gagal ayaman bambu tersebut juga sering melukai tanganya, tapi semua itu sudah menjadi resiko buat Ibu Ningsih dan sang suami Bapak Sunadi demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena usahanya tersebut mengayam bambu Ibu Ningsih tidak begitu memperhatikan penampilanya. Dengan pakainya yang iya pakai begitu lusuh hanya menggunakan kaos oblong dan sarung yang iya gunakan sebagi rok dan sandal karet.
            Terdapat dua jenis anyaman bambu yang Ibu Ningsih dan sang suami kerjakan, anyaman bambu yang pertama anyaman bambu polos tanpa motif, dan sedangkan  anyaman yang kedua anyaman bambu yang bermotif seperti motif batik. Usaha anyaman bambu yang Ibu Ningsih gelututi dengan sang suami, bahan-bahan bambunya tersebut ia dapat kirimin dari kuningan dan majalengka dan kota-kota lainnya yang mempunyai pasokan bambu yang sangat banyak dan sudah menjadi pelanggan dan di atarkan langsung sampai rumah.
            Usaha anyam bambu ini hanya dilakukannya berdua saja dengan suami tanpa ada karyawan,  karena usaha yang Ia geluti hanya usaha kecil-kecilan kalau memakai karyawan Ia takut tidak bisa membayarnya. Ibu Ningsih yang hanya lulusan SD tidak bisa mencari pekerjaan lain selain anyam bambu yang dapat iya geluti sampe sekarang. Harga anyaman bambu dijual permeter, anyaman bambu polos tanpa motif seharga Rp. 40.000,00- sedangkan harga anyaman bambu bermotif batik seharga Rp. 55.000,00- namun jika anyaman bambu di jual kepada pengepul harga anyaman menjadi setengah haraga, itulah mengapa Ia tidak menjual kepengepul lebih menjual anyaman bambunya sendiri kepada konsumen-konsumnya.
Description: H:\Anyaman.jpgDescription: F:\File yg diterima\Anyaman.jpg      Oleh : Peggy Dwi Rara s

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar