Sabtu, 03 Januari 2015

Eksistensi Industri Rotan Menurun


Eksistensi Industri Rotan Menurun
Oleh : Khikmatul Maola
(Mahasiswi Fakultas Pendidikan dan Sastra Indonesia
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon)

Tak ada rotan rakyat menjerit
Imbas dari gagal produksi menyebabkan pengangguran, karena tak ada rotan nasib rakyat pun tak ada

Lesunya industri rotan dalam negeri dinilai bukan karena kesalahan pengusaha, tetapi justru karena kesalahan kebijakan pemerintah RI. Dengan kebijakan Menteri Perdagangan yang mengizinkan ekspor bahan baku rotan sejak 2005, maka kompetitor di luar negeri yang sebelumnya mati sekarang bisa berproduksi lagi karena mendapatkan bahan baku dari Indonesia.
          Dengan keadaan seperti ini, penurunan produksi mencapai 70% dan berdampak pada pengangguran. Karena industri kerajinan rotan ini adalah indus­tri padat karya yang banyak me­nyerap tenaga kerja baik yang langsung maupun tidak langsung. Memang dari kementerian lain, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kehutanan telah berupaya untuk menghapus kebijakan ekspor bahan baku rotan tetapi tidak digubris.
Dulu pemerintah berharap dengan ekspor bahan baku ini ingin mendapatkan pajak ekspor tapi nyatanya karena ada manipulasi kuota, yang kena pajak hanya sedikit dari kuota riil yang diekspor. Sekarang memang sulit untuk mendapatkan bahan baku rotan. Untuk ukuran tertentu, barangnya tidak ada dalam order yang sedikit, apalagi order jumlah banyak. Sekarang dengan membuka ekspor bahan baku, sejumlah negara lain pun ramai-ramai menjadi produsen furnitur rotan. Sedangkan pekerja rotan banyak yang menganggur lantaran di Cirebon banyak perusahaan yang gulung tikar. Sebetulnya Kementerian Perindustrian sama misinya yaitu memproduksi dalam negeri dengan mengekspor barang jadi.
Kerajinan rotan memang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Cirebon, karena memang mayoritas masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi sehingga memilih untuk menjadi buruh di perusahan rotan. Jika setiap perusahaan rotan yang ada di Cirebon semuanya mengalami penurunan produksi, maka bisa jadi masyarakat akan kehilangan mata pencahariannya, meskipun tidak sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia di kota Cirebon. Banyak masyarakat yang bergantung nasib pada kerajinan rotan ini, bukan hanya itu kerajinan rotan juga menjadi salah satu potensi lokal yang ada di Cirebon. Sudah seharusnya potensi ini di lestarikan, karena tidak menutup kemungkinan jika terus di biarkan seperti ini maka kelestarian kerajinan rotan akan mengalami kepunahan. Terlebih banyak pesaing yang lebih inovatif dalam kerajinan rotan di daerah lain bahkan sekarang sudah merambah di luar negeri. Bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi juga tugas kita untuk melestarikan potensi lokal ini.

Dampak yang terjadi
Imbas dari semua itu meningkatnya jumlah pengangguran di Cirebon, meskipun tak ada data yang nyata tapi mungkin saja faktor banyaknya pengangguran mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi mikro karena menurunnya daya beli masyarakat dikarenakan hilangnya mata pencaharian. Hasil penelitian yang didapat dari salah satu perusahaan rotan di Cirebon, CV. Mutiara Rotan, mengalami terjadinya penurunan tingkat kegagalan produksi yang dihasilkan selama kurun waktu tiga tahun yaitu dari tahun 2005-2007. Pada tahun 2005 terjadi kegagalan sebesar 4,4%, pada tahun 2006 terjadi kegagalan sebesar 3,2%, pada tahun 2007 sebesar 1,5%. Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan yaitu adanya pemborosan bahan baku akibat kegagalan produk, sehingga terjadi penambahan biaya produksi.
Di samping itu juga, untuk pemasaran kerajinan rotan mengalami sedikit kendala, sebab para pengrajin sudah banyak yang mengalami pengangguran. Oleh karena itu, para konsumen kesulitan untuk menemukan kerajinan rotan yang unik maupun berkualitas, sehingga pengusaha rotan bener-bener mengalami penurunan produksi. Dalam memproduksi kerajinan rotan memang di butuhkan keahlian untuk hasil yang sempurna, jika para pengrajin kurang memiliki kreativitas maka tidak mungkin produksi rotan akan mengalami penurunan terus menerus. Kebakaran hutan pun menjadi salah satu pemicu menurunnya produksi rotan, sebab bahan baku yang diperoleh akan mengalami kesulitan.

Upaya
Dalam menghadapi hambatan produksi rotan yaitu menerapkan dan meningkatkan pengendalian produksi guna meminimalkan tingkat kegagalan / kecacatan produk yang dihasilkan. Perusahaan lebih meningkatkan pelaksanaan pengendalian produksi, memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pengandalian produksi seperti faktor tenaga kerja, mesin-mesin, metode, pengadaan bahan baku, kondisi kerja, motivasi maupun keuangan, agar pengendalian kualitas yang diterapkan berjalan maksimal. Dalam proses produksi rotan juga, perlu melakukan Pengendalian produksi dengan tujuan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan sehingga kegagalan kegagalan produk bisa dicegah. Dengan begitu biaya produksi dapat diminimalkan pula. Berdasarkan hasil penelitian di CV. Mutiara Rotan, ditemukan beberapa masalah dalam perusahaan yaitu adanya pengerjaan ulang dalam proses produksi sehingga terjadi keterlambatan dan pemborosan bahan baku serta adanya kerugian atau penambahan biaya akibat kegagalan produk yang dihasilkan.
Pemerintah sudah seharusnya membatasi kuota ekspor bahan baku ke luar negeri dengan tujuan supaya pengusaha rotan tidak mengalami kesulitan mendapatkan rotan dengan jumlah banyak. Pemerintah seharusnya lebih seleksi dan teliti jika mengekspor bahan baku sehingga tidak ada manipulasi kuota yang merugikan itu, bukan hanya membatasi ekspor tetapi pemerintah kehutanan pun seharusnya memperhatikan hutan rotan tetap terlindungi dan memberikan sangsi atau denda kepada orang yang merusak hutan, membakar hutan maupun penebangan liar yang besar-besaran. Sehingga dengan adanya hukuman seperti itu di harapkan hutan rotan tetap terjaga dan bisa menghasilkan pohon rotan yang baik dan berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar