Eksistensi
Industri Rotan Menurun
Oleh
: Khikmatul Maola
(Mahasiswi
Fakultas Pendidikan dan Sastra Indonesia
Universitas
Swadaya Gunung Jati Cirebon)
Tak ada rotan rakyat menjerit
Imbas dari gagal produksi menyebabkan pengangguran,
karena tak ada rotan nasib rakyat pun tak ada
Lesunya
industri rotan dalam negeri dinilai bukan karena kesalahan pengusaha, tetapi
justru karena kesalahan kebijakan pemerintah RI. Dengan kebijakan Menteri
Perdagangan yang mengizinkan ekspor bahan baku rotan sejak 2005, maka
kompetitor di luar negeri yang sebelumnya mati sekarang bisa berproduksi lagi
karena mendapatkan bahan baku dari Indonesia.
Dengan keadaan seperti ini, penurunan
produksi mencapai 70% dan berdampak pada pengangguran. Karena industri
kerajinan rotan ini adalah industri padat karya yang banyak menyerap tenaga
kerja baik yang langsung maupun tidak langsung. Memang dari kementerian lain,
seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kehutanan telah berupaya
untuk menghapus kebijakan ekspor bahan baku rotan tetapi tidak digubris.
Dulu
pemerintah berharap dengan ekspor bahan baku ini ingin mendapatkan pajak ekspor
tapi nyatanya karena ada manipulasi kuota, yang kena pajak hanya sedikit dari
kuota riil yang diekspor. Sekarang
memang sulit untuk mendapatkan bahan baku rotan. Untuk ukuran tertentu,
barangnya tidak ada dalam order yang sedikit, apalagi order jumlah banyak.
Sekarang dengan membuka ekspor bahan baku, sejumlah negara lain pun ramai-ramai
menjadi produsen furnitur rotan. Sedangkan pekerja rotan banyak yang menganggur
lantaran di Cirebon banyak perusahaan yang gulung tikar. Sebetulnya Kementerian
Perindustrian sama misinya yaitu memproduksi dalam negeri dengan mengekspor
barang jadi.
Kerajinan rotan memang menjadi salah satu mata
pencaharian masyarakat Cirebon, karena memang mayoritas masyarakat yang tidak
berpendidikan tinggi sehingga memilih untuk menjadi buruh di perusahan rotan. Jika
setiap perusahaan rotan yang ada di Cirebon semuanya mengalami penurunan
produksi, maka bisa jadi masyarakat akan kehilangan mata pencahariannya,
meskipun tidak sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia di kota Cirebon. Banyak
masyarakat yang bergantung nasib pada kerajinan rotan ini, bukan hanya itu
kerajinan rotan juga menjadi salah satu potensi lokal yang ada di Cirebon.
Sudah seharusnya potensi ini di lestarikan, karena tidak menutup kemungkinan
jika terus di biarkan seperti ini maka kelestarian kerajinan rotan akan
mengalami kepunahan. Terlebih banyak pesaing yang lebih inovatif dalam
kerajinan rotan di daerah lain bahkan sekarang sudah merambah di luar negeri.
Bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi juga tugas kita untuk melestarikan
potensi lokal ini.
Dampak yang terjadi
Imbas dari semua itu meningkatnya jumlah
pengangguran di Cirebon, meskipun tak ada data yang nyata tapi mungkin saja faktor
banyaknya pengangguran mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi mikro karena
menurunnya daya beli masyarakat dikarenakan hilangnya mata pencaharian. Hasil penelitian yang didapat dari salah satu
perusahaan rotan di Cirebon, CV. Mutiara Rotan, mengalami terjadinya penurunan
tingkat kegagalan produksi yang
dihasilkan selama kurun waktu tiga tahun yaitu dari tahun 2005-2007. Pada tahun
2005 terjadi kegagalan sebesar 4,4%, pada tahun 2006 terjadi kegagalan sebesar
3,2%, pada tahun 2007 sebesar 1,5%. Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan
yaitu adanya pemborosan bahan
baku akibat kegagalan produk, sehingga terjadi penambahan biaya produksi.
Di samping itu juga, untuk pemasaran kerajinan rotan
mengalami sedikit kendala, sebab para pengrajin sudah banyak yang mengalami
pengangguran. Oleh karena itu, para konsumen kesulitan untuk menemukan
kerajinan rotan yang unik maupun berkualitas, sehingga pengusaha rotan
bener-bener mengalami penurunan produksi. Dalam memproduksi kerajinan rotan
memang di butuhkan keahlian untuk hasil yang sempurna, jika para pengrajin
kurang memiliki kreativitas maka tidak mungkin produksi rotan akan mengalami
penurunan terus menerus. Kebakaran hutan pun menjadi salah satu pemicu
menurunnya produksi rotan, sebab bahan baku yang diperoleh akan mengalami
kesulitan.
Upaya
Dalam menghadapi hambatan produksi rotan yaitu menerapkan dan meningkatkan pengendalian produksi
guna meminimalkan tingkat kegagalan / kecacatan produk yang dihasilkan. Perusahaan lebih meningkatkan pelaksanaan
pengendalian produksi, memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pengandalian
produksi seperti faktor tenaga kerja, mesin-mesin, metode, pengadaan bahan
baku, kondisi kerja, motivasi maupun
keuangan, agar pengendalian kualitas yang diterapkan berjalan maksimal. Dalam proses produksi rotan
juga, perlu melakukan Pengendalian produksi dengan tujuan agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan sehingga kegagalan
kegagalan produk bisa dicegah.
Dengan begitu biaya produksi dapat diminimalkan pula. Berdasarkan hasil penelitian di CV. Mutiara
Rotan, ditemukan beberapa masalah dalam perusahaan yaitu adanya pengerjaan
ulang dalam proses produksi sehingga
terjadi keterlambatan dan pemborosan bahan baku serta adanya kerugian atau penambahan biaya akibat
kegagalan produk yang dihasilkan.
Pemerintah sudah seharusnya membatasi kuota ekspor
bahan baku ke luar negeri dengan tujuan supaya pengusaha rotan tidak mengalami
kesulitan mendapatkan rotan dengan jumlah banyak. Pemerintah seharusnya lebih
seleksi dan teliti jika mengekspor bahan baku sehingga tidak ada manipulasi
kuota yang merugikan itu, bukan hanya membatasi ekspor tetapi pemerintah
kehutanan pun seharusnya memperhatikan hutan rotan tetap terlindungi dan
memberikan sangsi atau denda kepada orang yang merusak hutan, membakar hutan
maupun penebangan liar yang besar-besaran. Sehingga dengan adanya hukuman
seperti itu di harapkan hutan rotan tetap terjaga dan bisa menghasilkan pohon
rotan yang baik dan berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar