Sabtu, 03 Januari 2015

Feature

Nama : Khikmatul Maola
Kelas : 2 A
 “Feature”

Guntur dan Profesi Uniknya
Menjadi Seorang Dalang Layar Tancap yang Sukses

Berkat kerja kerasnya selama ini guntur sekarang sudah sangat mahir menjalankan profesi yang sudah dirintis oleh ayahnya sejak dulu. Guntur merasa bangga bisa menjalankan profesi ini, sebab bukan hanya profesi kerja semata melainkan dengan profesi ini ia bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Profesi menjadi seorang dalang layar tancap ini sudah ia tekuni selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini, seletah ayahnya meninggal dunia pada tahun 2008. Pada waktu ayahnya meninggal dunia guntur masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Industri perfileman layar tancap pada waktu itu sangat booming dikalangan masyarakat Cirebon khususnya pada waktu hajatan, akan tetapi setelah ayahanda guntur meninggal dunia usaha layar tancap yang dikelola bapak Sanusi ini sempat fakum beberapa tahun yang lalu. “Pada waktu itu saya masih duduk di bangku SMA dan tidak pernah memikirkan bagaimana caranya agar usaha ayah ini tetap berjalan”  ujar Guntur.
            Setelah guntur lulus SMA, ibunda guntur mulai kebingungan bagaimana caranya guntur bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sebab tidak ada biaya untuk melanjutkan guntur kuliah disamping itu juga masih ada kedua adiknya yang masih bersekolah di bangku SD dan SMP.  Mengingat tidak ada pemasukan tambahan yang lebih selain usaha ibu Ena yang menjadi pedagang nasi. “setelah suami saya meninggal dunia, saya bingung bagaimana caranya saya menafkahi anak-anak, akhirnya saya mencoba berjualan nasi di pagi hari untuk menyambung hidup, walaupun ada usaha layar tancap yang sudah suami saya kelola akan tetapi saya tidak tau bagaimana mengelola usaha tersebut, karena banyak hal yang tidak saya kuasai dalam usaha itu” tutur ibu Ena.


Tak Pernah Berfikir Menjadi Dalang Layar Lebar
            Akhirnya setelah ibu Ena dan Guntur musyawarah memikirkan nasib hidupnya kedepan, ibu Ena menyuruh guntur untuk melanjutkan usaha ayahnya itu, biar bagaimanapun guntur dan adik-adiknya harus tetap bersekolah, meskipun guntur tidak ada keahlian sama sekali dalam profesi ini namun semangat guntur ingin kuliah akhirnya ia bertekad melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi dalang layar tancap di usianya yang masih muda. Sebab dulu guntur tidak pernah berminat untuk menjadi seorang dalang layar tancap seperti ayahnya, ia berfikir menjadi seorang dalang layar tancap itu tidak berarti apapun karena bekerja diwaktu malam hari dimana sebagian orang sedang menikmati waktu istirahatnya tapi dalang layar tancap malah menghibur orang lain diwaktu malam tiba. Maka dari itu ia tidak pernah memperhatikan seluk beluk layar tancap. Akan tetapi ketidak sukaannya sewaktu dulu sekarang guntur dituntut untuk menyukai layar tancap biar bagaimanapun hidup tetap berjalan guntur dan adik-adiknya harus tetap sekolah, karena keadaan itulah akhirnya guntur mulai belajar tentang seluk beluk layar tancap, karena tidak mudah memang menjadi dalang layar tancap, banyak hal yang harus di kuasai bukan hanya memasang layar lebar saja akan tetapi seorang dalang layar tancap harus paham betul tentang sound, alat roll pemutaran film, efek cahaya (lighting) yang sempurna, memahami perfileman yang akan diputarkan, mengetahui tentang efek gambar yang sempurna pada saat film ditampilkan. Semua ilmu seluk beluk layar tancap guntur belajar dari pak Asep teman seprofesi ayahnya dulu.
Sebelum guntur turun langsung kelapangan, ia selalu ikut dengan pak asep pada saat tampil, ia mulai mengamati dengan serius bagaimana menjalankan film mulai dari pemasangan sampai pemutaran film dengan hasil yang sempurna. “Menjadi dalang layar tancap harus serius memang kelihatannya tidak serumit profesi lain akan tetapi jika kita tidak mengetahui betul tentang alat-alat film maka hasilnya pun akan tidak baik” ujar pak Asep. Guntur selalu mengingat ucapan pak asep tersebut, karena baimanapun jika kita tidak serius belajar maka akan tidak maksimal pula hasilnya, guntur tidak mau setengah-setengah menjalankan profesi ini walaupun usianya masih muda tetapi semangatnya sangat luar biasa. “hidup adalah perjuangan yang harus kita jalankan dan pertaruhkan walaupun banyak gelombang yang menghadang, tapi kita harus semangat menjalankan hidup tidak mudah goyah oleh terpaan angin” tutur Guntur. Begitulah prinsip hidup guntur untuk tetap menjalankan kehidupannya.

Tawaran Pemutaran Film
            Setelah dirasa cukup menguasai tentang perfileman layar tancap akhirnya guntur mencoba memberanikan diri untuk pemutaran film tanpa ditemani oleh pak asep, tawaran pertama yang ia terima setelah pembukaan kembali layar tancap, guntur mendapat order itupun dari pak asep yang sengaja memberikan job kepadanya, pengalaman pertama guntur pada saat pemutaran film ini sangat dirasakan olehnya sebagai tantangan baru dalam hidupnya, guntur tidak sendirian ia membawa sahabatnya untuk membatu mempersiapkan segala sesuatunya, “saya tidak bisa sendirian, itu akan membuat saya sangat kerepotan akhirnya saya membawa Arman sahabat dekat untuk membantu serta menemani saya” ujar Guntur. Setelah selesai pemutaran film di salah satu hajatan kami diberi honor sebesar 2juta rupiah, hasil itupun ia tidak mengetahui sebelumnya, sebab awalnya job ini dipernenalkan oleh pak asep, dan beliau tidak memberitahu kepada guntur masalah honor, pada waktu itu guntur tidak begitu memikirkan honor karena baginya yang penting profesi ini berjalan dengan lancar terlebih dahulu. Setelah penampilan guntur yang pertama ini, akhirnya pak asep memberitahu guntur bahwasanya rata-rata tarif setiap kali pemutaran film dari jam 20.40-24.40 itu sebesar 2 juta rupiah. Dan barulah saat itu guntur mengetahuinya.

Penghasilan Yang Diterima Untuk Biaya Pendidikan
            Setelah berjalan beberapa bulan usaha film yang guntur kelola itu guntur mendapat banyak tawaran job, akhirnya guntur mulai memikirkan dirinya untuk kuliah dengan penghasilan seperti ini dia rasa cukup untuk biaya sekolah beserta adik-adiknya, terlebih ibundanya berjualan nasi. “ saya bersyukur guntur tidak mengeluh menjalankan profesi ini, guntur senantiasa bersemangat walaupun anak seusianya malah asik bermain dan tidak usah pusing-pusing memikirkan beban keluarga, tapi guntur tidak keberatan menjadi seorang dalang layar tancap,” pujinya.
Guntur mulai sibuk memikirkan untuk melanjutkan kuliah, sebab setelah lulus dari SMA ia tidak langsung melanjutkan kuliahnya, guntur memilih berhenti terlebih dahulu selama kurun waktu 1 tahun, ia memfokuskan diri belajar menjadi seorang dalang layar tancap yang profesional. “saya akan tetap menjadi dalang layar tancap walaupun bertambah kesibukan menjadi mahasiswa saya akan tetap menjalankan profesi ini” tegasnya. Pendidikan itu penting jadi sebisa mungkin guntur tetap kuliah, dan setelah guntur memilih perguruan tinggi yang ada di kota Cirebon, akhirnya guntur masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta dengan mengambil jurusan Teknik Informatika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar