Jumat, 09 Januari 2015

artikel yuli agustin kelas 2b



Eksistensi Batik di Tengah Pengaruh Mode Globalisasi
(oleh Yuli Agustin, Mahasiswa FKIP Bahasa Indonesia UNSWAGATI)

Jika Jepang mempunyai kimono sebagai pakaian tradisonal mereka, Korea dengan hanbok kebesaranya, maka Indonesia dengan batik sebagai kebanggaanya. Batik adalah kain corak warisan para nenek moyang kita  yang sekarang telah menjadi warisan budaya dunia karena pada tanggal 2 oktober tahun 2009 UNESCO resmi menetapkan bahwa batik merupakan warisan asli budaya Indonesia, bukan milik negara tetangga yang sempat mengakkui batik sebagai warisanya budayanya.
Batik pada awal mulanya memang hanya terkenal di daerah jawa, terutama kota yang sangat familiar dengan julukan kota batik yaitu kota pekalongan, solo, Yogyakarta dan yang lainya. Namun pada masa sekarang telah berkembang ke daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Corak batik pun beragam sesuai dengan yang dihasilkan di daerah asal produksi. Keragaman corak batik ini menandakan pula beragamanya kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.  Dengan adanya berbagai corak batik yang beragam ini menjadikan batik Indonesia sangatlah indah dan menarik dengan warna warni khasnya.
Pada era globalisasi dengan terbukanya pasar perdagangan dunia, tidak bisa kita memungkiri bahwa gaya hidup, tren dan mode sangatlah berkembang pesat. Bahkan masyarakat Indonesia terkesan sangat berkiblat ke negara-negara barat juga masyarakat Indonesia terkesan lebih senang menjadi konsumen dibandingkan dengan menjadi produsen. Beruntung untuk batik, sebagai warisan nenek moyang kita berhasil tumbuh dan berkembang serta tidak tersisihkan dengan arus globalisasi dan mode dunia. Bahkan batik kini mampu menjadi tren berbusana bagi masyarakat indonesia maupun dunia. Jika dahulu orang-orang beranggapan bahwa menggunakan batik itu kolot bahkan tidak nyentrik tapi bersyukur anak muda sekarang ini banyak yang memakai batik. Tengok saja anak-anak remaja usia sekolah sampai mahasiswa banyak sekali diantara mereka menggunakan batik. Kini batik menjadi sering dipakai, semua lembaga pemerintah maupun swasta telah mewajibkan bagi semua pegawainya pada hari tertentu wajib menggunakan batik.
Pengaruh globalisasi tidak selamanya negatif, dalam ini ada sisi positif sebab dengan hadirnya mode pakaian yang beragam sehingga batik pun mempunyai banyak varian model yang bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman di era sekarang ini kemudian akses untuk mengenalkan batik kepada masyarakat luar negeri pun lumayan mudah. bahkan batik kini bisa menjadi kain mahal yang sudah mampu bersanding dengan busana yang lainya. Sehingga kain batik tidak lagi dipandang sebagai kain yang kolot, dan tidak nyentrik. Kini bukan hanya bali, candi Borobudur, sate atau bahkan nasi goreng yang terkenal sebagai kebudayaan Indonesia dimata orang asing tetapi batik pula. Orang-orang luar negeri yang berwisata atau melancong ke Indonesia tak sedikit yang membeli kain batik sebagai buah tangan. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa ditengah gempuran arus globalisasi. Dengan begitu tidak sia-sia UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia.
Dengan eksistensi batik yang mempunyai manfaat semakin dikenalnya batik oleh dunia juga memberikan manfaat dalam segi ekonomi karena para perajin berarti tetap aktif memproduksi. Bahkan batik kini telah berkembang bukan hanya sebagai kain untuk berbusana tetapi batik juga telah berkembang ke berbagai kerajinan lain seperti tas, sepatu, dompet dan yang lainya.
Sebagai warga negara Indonesia kita harus tetap mempertahankan dan melestarikan batik sebab kalau bukan bangsa kita sendiri lalu siapa lagi. Sekarang dan untuk generasi anak cucu kita batik haruslah tetap dipertahankan. Jangan sampai kejadian yang membuat hati masyarakat kita geram karena batik di akui negara tetangga terulang kembali, jika sudah di akui negara lain barulah kita merasa panas hati padahal sebelumnya kita tidak terlalu peduli atau bahkan terkesan acuh. ingatlah bahwa batik itu milik kita, milik bangsa Indonesia. Jika orang luar negeri saja bangga menggunakan batik apalagi kita, tentu kita sebagai pemilik batik seutuhnya haruslah jauh lebih bangga. Batik adalah aset kebanggaan untuk kita sehingga sedini mungkin tanamkan pada diri kita cinta Indonesia dan kita bangga memakai batik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar