Jumat, 09 Januari 2015

feature yuli agustin kelas 2b

 
Bunga Kuburan dan Kakek Sana
(Yuli Agustin 2B)


Usia senja bukan berarti semangat kerja juga mulai meredup, teringat peribahasa “tua-tua- kelapa, makin tua makin bersantan” begitulah mengibaratkan mereka yang sudah berumur namun masih produktif bekerja. Bapak sana adalah salah satunya, kakek berusia satu abad ini diusianya yang terbilang sudah sangat renta itu namun beliau masih gigih bekerja. Setiap hari beliau mencari bunga kamboja yang biasanya tumbuh di kuburan. Bunga kamboja yang mendapat julukan bunga menyeramkan karena banyak tumbuh di sekitaran kuburan. bagi sebagian orang bunga ini sering dipandang sebelah mata tetapi justru bagi beliau bunga kamboja ini adalah sumber ekonomis sebagai rezeki yang bisa menyambung kehidupanya.
Setiap hari beliau pergi mencari bunga kamboja di kuburan-kuburan yang berada di desa kamarang. Dengan bermodalkan sebuah kantong plastik ditangannya  tubuh renta itu siap melangkah mencari bunga kamboja yang telah berguguran di tanah. tubuhnya ringkih, langkahnya tidak lagi gagah, rambut yang memutih dengan sempurna begitulah keadaan diri kakek sana. Kakek sana menjadi pemulung bunga kamboja ini sudah dilakoninya semenjak 8 tahun yang lalu sampai sekarang. Pekerjaan ini beliau pilih karena memang tidak ada lagi pekerjaan lain mengingat usianya sudah sangat tua sehingga sudah tidak mampu lagi untuk melakukan pekerjaan yang berat “pekerjaan ini lumayan ringan, dibandingkan pekerjaan lain sebab kondisi sudah tidak memungkinkan jika bekerja yang berat, jadi saya sangat mencintai pekerjaan ini” begitu tuturnya.
Bunga-bunga kamboja yang telah didapatkan oleh beliau setiap harinya kemudian dikumpulkan lalu dijemurnya sampai menjadi sangat kering, sebab bunga kamboja yang basah tentu tidak akan laku untuk dijual karena hanya bunga kamboja keringlah yang akan bisa dijual kepengepul. Bunga kamboja kering itu nantinya akan dijadikan sebagai salah satu bahan untuk membuat minyak wangi. Namun bapak sana tidak bisa menjual bunga kamboja setiap hari dikarenakan bunga kamboja yang di dapat jumlahnya sedikit, apalagi musim hujan seperti sekarang ini bunga kamboja susah didapat, Kecuali pada musim kemarau bunga kamboja yang didapatkan jumlahnya akan jauh lebih banyak. Beliau baru bisa menjualnya dua minggu sekali karena harus dikumpulkan agar jumlah timbanganya banyak. Hasil penjualan dari bunga kamboja ini memang tidak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-harinya, Karena perkilonya hanya dihargai tujuh ribu rupiah, harga bunga kamboja saat ini memang sangat murah dibandingkan tahun-tahun yang lalu yang dihargai hingga mencapai tujuh puluh ribu per kilonya.
Beliau memang mempunyai tujuh orang anak yang siap mengurusnya tanpa harus beliau bekerja lagi, namun baginya selagi kondisi badan masih sehat ia tidak ingin terlalu bergantung pada anak-anaknya  “anak-anak semuanya sudah berumahtangga, mereka punya kebutuhan masing-masing jadi selama masih mampu untuk mencari rezeki ya dikerjakan saja” begitu tuturnya. Beliau juga menambahkan “selain karena memang untuk menghasilkan uang, pilihan menjadi seorang pemulung bunga kamboja juga dikarenakan memang karena rasa setianya pada pekerjaan ini”. Beliau sangat bersyukur di usianya yang sudah satu abad ini masih diberikan kesehatan jika dibandingkan dengan orang-orang yang seusinya. Mencari bunga kamboja baginya suatu aktivitas yang menyenangkan dibanding hanya berdiam diri di rumah.
Semangat kakek sana ini memang sangat luar biasa, jika sebagian orang memilih menghabiskan masa tuanya hanya dengan berdiam dirumah berkumpul bersama keluarga mereka, namun tidak dengan beliau. Masa tua bukan menjadi halangan untuk tetap bekerja. Ini menginspirasi anak-anak muda supaya hidup tidak hanya untuk berleha-leha, selama masih ada yang mampu untuk dikerjakan maka kerjakanlah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar