Kamis, 25 Desember 2014

Feature Tanah sakral mematikan



TANAH SAKRAL MEMATIKAN
Suasana yang tentram, hening serta dihiasi rimbunan pohon berbunga putih sehingga membuat semerbak harum jika memasuki kawasan itu. Setiap kaki melangkah, bulu kuduk pun ikut berdiri. Tempat itulah yang akan menjadi rumah terakhir yang kekal dan abadi untuk manusia.
Tanah kuburan, yang berletak di Desa Panguragan, Kecamatan Arjawinangun Cirebon, sudah lama tersohor dengan ilmu kasat mata, bahkan banyak dukun aliran sesat menggunakan tanah sakral itu untuk menjadikannya media guna-guna menghancurkan usaha orang. Dipercaya atau tidak tapi itu adalah berita terupdate. Guna-guna itu terkenal ganas, jarang pengusaha yang sanggup menghadapinya. Jika usahanya ditanami tanah sakral itu dijamin pada waktu yang singkat usahanya akan mengalami bangkrut lalu dililit hutang dalam jumlah besar.
Dede Solekha, 20 tahun, asli penduduk Panguragan duduk bersandar di kampus 2 Universitas Swadaya Gunung Jati dengan buku bacaan islami ditangannya, ia berkata “aku sii ngga percaya sama guna-guna, semuanya sudah ada yang berkehendak”. Ya tentu saja itu semua  allahu’alam karena hanya yang Kuasa lah yang dapat memutar balikan kehendak dan mengetahui segala sesuatunya. Selain menjumpai dede, Richa Nurjanah, 22 tahun, juga sering mendengar berita heboh mistis ini hingga ke kota asalnya Indramayu. Menurutnya itu memang ada dan terjadi, sebab salah satu tetangganya Udi, warga kelurahan Karangmalang, Kabupaten Indramayu pernah mengalami kebangkrutan, ia kehilang kios kue kering miliknya di “Pasar Baru” Tanjungpura karena dijual dan menanggung hutang pihutang sekitar 20 jutaan, namun dia kini harus mengais rezeki di Negeri Orang yaitu sebagai driver di Arab Saudi. Ia bercerita pada Richa saat kehilangan kios kesayangannya.
Ujang adalah Bapaknya Udi, saat itu Jumat Kliwon hingga Sabtu Legi (18 – 19 Januari 2008), Ujang duduk termenung di teras gedung pertemuan kompleks “Kinasih” di Jalan Tapos, Kecamatan Cimanggis, Kabupaten Depok. Wajah yang sudah dipenuhi kerutan itu tampak kuyu seakan menyimpan duka nestapa teramat berat. Ujang berupaya memuntahkan kegalauannya seputar perjalanan usaha putra sulungnya Udi yang kini bangkrut dan gulung tikar. Pasar lama yang terletak di Kelurahan Lemah Abang, Kabupaten Indramayu itu terbakar pada Selasa 11 Juli 1995, dan pedagang direlokasi ke Pasar Baru Kelurahan Karanganyar, Kabupaten Indramayu, secara bertahap kios kue kering milik Udi mengalami kemajuan. Setidaknya hingga 2005 silam. Bahkan sejumlah kios yang berada dekat dengan kios Udi mengubah dangangannya dengan menjual kue kering seperti kios Udi. Tetapi pada tahun 2006 kios Udi mengalami kebangkrutan , kiosnya menjadi sepi, bahkan omzetnya hanya cukup menutupi kebutuhan dapur keluarganya. Tragisnya puluhan pelanggan kabur dengan hutang yang besar. Hal itu membuat Udi kalang kabut menambal modalnya akibat pelanggan yang nakal.
            “Bukan itu saja, pada bulan ke tiga 2006, saya dan keluarga merasakan suatu gangguan gaib yang menciptakan rasa takut, bahkan saya mendapat berita dari tukang bakso dan skoteng yang sering mangkal di depan kios saya dimalam hari, katanya terdapat mayat hidup yang dibungkus kain kafan sedang mondar-mandir dikios saya ” ujar Udi kepada Richa.
            Malam Selasa Kliwon bulan ke enam 2006. Jarum jam menunjukan angka 2 dini hari, Udi dari ruang Kholwat yang bersatu dengan ruang dapur akan menuju ruang tamu, dengan sarung dan baju koko yang dikenakan serta tasbih ditangannya sedangkan Ujang duduk disamping Udi. Angin malam menerobos memasuki celah daun pintu, Entah dari mana ruang tamu sekejap dipenuhi bau busuk yang ganjil, suara benturan daun pintu dengan tembok membuat Udi soak. Yangt lebih menakutkan diambang pintu berdiri sosok pocong, kulit wajahnya sangat rusak. Lalu pocong itu menyerang Udi hanya mampu membuka mulut tapi lafazh Qursy tidak bisa keluar dari mulutnya. Saat pocong mendekatinya Udi baru ingat bahwa ia mengenggam tasbih pemberian dari ustadz, lalu tasbih itu dilemparkannya.
Dia benar-benar pasrah, bahkan sempat memejamkan mata berharap pocong tersebut menghilang, dan benar saja, ketika membuka matanya, mahklut itu sudah tidak ada dihadapannya menurut ayahnya pocong tadi terpental saat menyentuh tasbih yang digenggam. Keesokan harinya Udi diantar Ujang menemui seorang Ulama di Lohbener. Ujang menyerahkan sisa tanah bekas pocong yang tercecer di lantai ruang tamu. H.Abbas mengenggam tanah itu dan memenjamkan mata serta berkomat-kamit.
“Astagfirullah, mahkluk itu khodam guna-guna tanah kuburan panguragan. Untung kalian tidak sampai pingsan, jika pingsan, Na’udzubillah hanya Allah yang tahu batas umur mahkluNya” terang H.Abbas. setelah itu H.Abbas menyarankan menjual kios dengan murah kepada pemilik kios sebelahnya. Hasilnya untuk mengurangi hutangnya, Udi pun terpaksa kerja jadi kuli bangunan hanya untuk menutupi kebutuhan dapur, dan sejak awal 2007, Udi terbang ke Aran Saudi menjadi TKI.

LILS PUJIANTI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar