TANAH
SAKRAL MEMATIKAN
Suasana
yang tentram, hening serta dihiasi rimbunan pohon berbunga putih sehingga membuat
semerbak harum jika memasuki kawasan itu. Setiap kaki melangkah, bulu kuduk pun
ikut berdiri. Tempat itulah yang akan menjadi rumah terakhir yang kekal dan
abadi untuk manusia.
Tanah
kuburan, yang berletak di Desa Panguragan, Kecamatan Arjawinangun Cirebon,
sudah lama tersohor dengan ilmu kasat mata, bahkan banyak dukun aliran sesat
menggunakan tanah sakral itu untuk menjadikannya media guna-guna menghancurkan
usaha orang. Dipercaya atau tidak tapi itu adalah berita terupdate. Guna-guna
itu terkenal ganas, jarang pengusaha yang sanggup menghadapinya. Jika usahanya
ditanami tanah sakral itu dijamin pada waktu yang singkat usahanya akan
mengalami bangkrut lalu dililit hutang dalam jumlah besar.
Dede
Solekha, 20 tahun, asli penduduk Panguragan duduk bersandar di kampus 2
Universitas Swadaya Gunung Jati dengan buku bacaan islami ditangannya, ia
berkata “aku sii ngga percaya sama guna-guna, semuanya sudah ada yang
berkehendak”. Ya tentu saja itu semua allahu’alam karena hanya yang Kuasa lah yang
dapat memutar balikan kehendak dan mengetahui segala sesuatunya. Selain
menjumpai dede, Richa Nurjanah, 22 tahun, juga sering mendengar berita heboh
mistis ini hingga ke kota asalnya Indramayu. Menurutnya itu memang ada dan
terjadi, sebab salah satu tetangganya Udi, warga kelurahan Karangmalang,
Kabupaten Indramayu pernah mengalami kebangkrutan, ia kehilang kios kue kering
miliknya di “Pasar Baru” Tanjungpura karena dijual dan menanggung hutang
pihutang sekitar 20 jutaan, namun dia kini harus mengais rezeki di Negeri Orang
yaitu sebagai driver di Arab Saudi. Ia bercerita pada Richa saat kehilangan
kios kesayangannya.
Ujang
adalah Bapaknya Udi, saat itu Jumat Kliwon hingga Sabtu
Legi (18 – 19 Januari 2008), Ujang duduk termenung di teras gedung pertemuan
kompleks “Kinasih” di Jalan Tapos, Kecamatan Cimanggis, Kabupaten Depok. Wajah
yang sudah dipenuhi kerutan itu tampak kuyu seakan menyimpan duka nestapa
teramat berat. Ujang berupaya memuntahkan kegalauannya seputar perjalanan usaha
putra sulungnya Udi yang kini bangkrut dan gulung tikar. Pasar lama yang
terletak di Kelurahan Lemah Abang, Kabupaten Indramayu itu terbakar pada Selasa
11 Juli 1995, dan pedagang direlokasi ke Pasar Baru Kelurahan Karanganyar,
Kabupaten Indramayu, secara bertahap kios kue kering milik Udi mengalami
kemajuan. Setidaknya hingga 2005 silam. Bahkan sejumlah kios yang berada dekat
dengan kios Udi mengubah dangangannya dengan menjual kue kering seperti kios
Udi. Tetapi pada tahun 2006 kios Udi mengalami kebangkrutan , kiosnya menjadi
sepi, bahkan omzetnya hanya cukup menutupi kebutuhan dapur keluarganya.
Tragisnya puluhan pelanggan kabur dengan hutang yang besar. Hal itu membuat Udi
kalang kabut menambal modalnya akibat pelanggan yang nakal.
“Bukan itu saja, pada bulan ke tiga
2006, saya dan keluarga merasakan suatu gangguan gaib yang menciptakan rasa
takut, bahkan saya mendapat berita dari tukang bakso dan skoteng yang sering
mangkal di depan kios saya dimalam hari, katanya terdapat mayat hidup yang
dibungkus kain kafan sedang mondar-mandir dikios saya ” ujar Udi kepada Richa.
Malam Selasa Kliwon bulan ke enam
2006. Jarum jam menunjukan angka 2 dini hari, Udi dari ruang Kholwat yang bersatu
dengan ruang dapur akan menuju ruang tamu, dengan sarung dan baju koko yang
dikenakan serta tasbih ditangannya sedangkan Ujang duduk disamping Udi. Angin
malam menerobos memasuki celah daun pintu, Entah dari mana ruang tamu sekejap
dipenuhi bau busuk yang ganjil, suara benturan daun pintu dengan tembok membuat
Udi soak. Yangt lebih menakutkan diambang pintu berdiri sosok pocong, kulit
wajahnya sangat rusak. Lalu pocong itu menyerang Udi hanya mampu membuka mulut
tapi lafazh Qursy tidak bisa keluar dari mulutnya. Saat pocong mendekatinya Udi
baru ingat bahwa ia mengenggam tasbih pemberian dari ustadz, lalu tasbih itu
dilemparkannya.
Dia
benar-benar pasrah, bahkan sempat memejamkan mata berharap pocong tersebut
menghilang, dan benar saja, ketika membuka matanya, mahklut itu sudah tidak ada
dihadapannya menurut ayahnya pocong tadi terpental saat menyentuh tasbih yang
digenggam. Keesokan harinya Udi diantar Ujang menemui seorang Ulama di
Lohbener. Ujang menyerahkan sisa tanah bekas pocong yang tercecer di lantai
ruang tamu. H.Abbas mengenggam tanah itu dan memenjamkan mata serta
berkomat-kamit.
“Astagfirullah,
mahkluk itu khodam guna-guna tanah kuburan panguragan. Untung kalian tidak
sampai pingsan, jika pingsan, Na’udzubillah hanya Allah yang tahu batas umur mahkluNya”
terang H.Abbas. setelah itu H.Abbas menyarankan menjual kios dengan murah
kepada pemilik kios sebelahnya. Hasilnya untuk mengurangi hutangnya, Udi pun
terpaksa kerja jadi kuli bangunan hanya untuk menutupi kebutuhan dapur, dan
sejak awal 2007, Udi terbang ke Aran Saudi menjadi TKI.
LILS PUJIANTI
LILS PUJIANTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar