Kamis, 25 Desember 2014

Artikel Kenakalan remaja



Kenakalan Remaja Racun Bangsa
Oleh Lilis Pujianti

Darah muda, darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah
Masa muda, masa yang berapi-api                       
Yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli

            Demikianlah lagu yang diciptakan oleh Rhoma Irama yang mengambarkan prilaku remaja, dalam lirik lagu tersebut dijelaskan tingkah laku remaja, adapun pengertian remaja yaitu masa peralihan seseorang diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun psikisnya, remaja bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
            Ada pendapat remaja menurut para ahli dalam Pinkus (Yusuf, 2007:184) mengemukakan dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai masa “Strom dan Stres”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa. Remaja secara umum berada dalam situasi pembentukan karakter serta menemukan jati dirinya, sering kali terjebak dalam pergaulan yang berdampak negative, remaja sering tidak menyadarinya terkadang apa yang telah mereka perbuat itu salah dan merugikan. Mereka para remaja selalu lebih berpikir tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi sesudahnya
Kenakalan remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Masalah kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada remaja maupun pada saat kanak-kanak secara psikologis kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik.
Akhir-akhir ini fenomena menikah dibawah umur makin meluas bukan hanya didalam negri bahkan diluar negripun banyak terjadi. Seperti yang dimuat oleh salah satu media harian  Pikiran  Rakyat pada tanggal 13 September 2014 pada halaman 12, disitu dituliskan kasus “Satu dari lima wanita kawin sebelum usia 15 tahun”. bahkan hal seperti ini sudah biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-harinya, banyak para penerus bangsa terutama di kaum hawa, sering kali tidak berpikir panjang, ini menjadi masalah dalam kehidupan untuk mengapai cita-cita atau masa depan yang baik. Ada saja perempuan yang rela mengorbankan harga dirinya hanya untuk cinta monyetnya, bahkan sampai terjadi kehamilan dan akhirnya menikah diusia muda, seharusnya di masa itu perempuan menuntut ilmu dan mengejar impiannya, tapi kenyataannya dia harus mengerus anaknya dengan usia yang muda, dan penyeselan pasti berakhir dibelakangan.
Jika sudah seperti itu siapa yang malu? Tentulah diri sendiri terutama orang tua yang sudah mendidik sang anak dari sejak kecil bahkan dalam kandungan. Disini peran orang tua sangatlah penting, sebagai orang tua seharusnya selalu memberikan pengawasan terhadap remaja yang sedang tumbuh, adakalanya juga orang tua hendaknya menjadi seorang sahabat disaat anaknya mendapatkan masalah dan membutuhkan solusi atau jalan keluar sehingga anak tidak merasa takut untuk menceritakan masalahnya, orang tua pula harus memberikan pengertian dan perhatian sebaik-baiknya, selalu terjalinnya komunikasi yang lancer dan baik agar orang tua mengetahui apa saja yang dilakukan sang anak, serta wajib bagi orang tua memberikan atau mencontohkan sauri tauladan dalam menekankan bimbingannya.
Lingkungan juga memengaruhi karakter dan tingkah laku sang anak, terkadang jika sang anak bergaul di kalangan yang berpendidikan, pastilah sang anak akan berpendidikan, bahkan berbudaya, ada pepatah yang berbicara “jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi pastilah kita juga akan kena wanginya”. Dari situ kita bisa ambil makna jika anak bergaul dengan orang yang baik-baik, pastilah sang anak akan bertindak baik-baik pula, dan sebaliknya jika sang anak bergaul dengan orang yang bertindak negative atau tidak baik, terjadilah pola pikir atau tindakan yang tidak baik pula. Tidak hanya peran orang tua dan lingkungan untuk bergaul sang anak yang akan mempengaruhi remaja di era modern ini, terkadang teknologi yang semakin canggih juga dapat merusak, mempengaruhi remaja, sebagai orang tua yang tak ingin anaknya salah jalan atau terjerumus dalam silaunya dunia, orang tua harus bisa mengarahkan bagaimana seharusnya teknologi dipakai dengan benar serta mengawasi sang anak, dengan siapa dia bergaul, dan mengetahui apa saja masalah yang terjadi pada sang anak.
LILIS PUJIANTI
Mahasiswa
Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar