Kenakalan
Remaja Racun Bangsa
Oleh
Lilis Pujianti
Darah muda, darahnya
para remaja
Yang selalu merasa
gagah, tak pernah mau mengalah
Masa
muda, masa yang berapi-api
Yang maunya menang
sendiri, walau salah tak peduli
Demikianlah lagu yang diciptakan oleh Rhoma Irama yang
mengambarkan prilaku remaja, dalam lirik lagu tersebut dijelaskan tingkah laku
remaja, adapun pengertian remaja yaitu masa peralihan seseorang diantara masa
kanak-kanak dan masa dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan
masa perkembangan fisiknya maupun psikisnya, remaja bukanlah anak-anak baik
bentuk badan ataupun cara berfikir, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah
matang.
Ada pendapat remaja menurut para ahli dalam Pinkus
(Yusuf, 2007:184) mengemukakan dalam budaya Amerika, periode remaja ini
dipandang sebagai masa “Strom dan Stres”,
frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun
tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial
budaya orang dewasa. Remaja secara umum berada dalam situasi pembentukan
karakter serta menemukan jati dirinya, sering kali terjebak dalam pergaulan
yang berdampak negative, remaja sering tidak menyadarinya terkadang apa yang
telah mereka perbuat itu salah dan merugikan. Mereka para remaja selalu lebih
berpikir tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi sesudahnya
Kenakalan
remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus, sambung
menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun, dari
bulan ke bulan, bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Masalah kenakalan
remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia.
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam
menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada remaja maupun pada saat
kanak-kanak secara psikologis kenakalan remaja merupakan wujud dari
konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik.
Akhir-akhir
ini fenomena menikah dibawah umur makin meluas bukan hanya didalam negri bahkan
diluar negripun banyak terjadi. Seperti yang dimuat oleh salah satu media
harian Pikiran Rakyat pada tanggal
13 September 2014 pada halaman 12, disitu dituliskan kasus “Satu dari lima
wanita kawin sebelum usia 15 tahun”. bahkan hal seperti ini sudah biasa kita
jumpai dalam kehidupan sehari-harinya, banyak para penerus bangsa terutama di
kaum hawa, sering kali tidak berpikir panjang, ini menjadi masalah dalam
kehidupan untuk mengapai cita-cita atau masa depan yang baik. Ada saja
perempuan yang rela mengorbankan harga dirinya hanya untuk cinta monyetnya,
bahkan sampai terjadi kehamilan dan akhirnya menikah diusia muda, seharusnya di
masa itu perempuan menuntut ilmu dan mengejar impiannya, tapi kenyataannya dia
harus mengerus anaknya dengan usia yang muda, dan penyeselan pasti berakhir
dibelakangan.
Jika
sudah seperti itu siapa yang malu? Tentulah diri sendiri terutama orang tua
yang sudah mendidik sang anak dari sejak kecil bahkan dalam kandungan. Disini
peran orang tua sangatlah penting, sebagai orang tua seharusnya selalu memberikan
pengawasan terhadap remaja yang sedang tumbuh, adakalanya juga orang tua
hendaknya menjadi seorang sahabat disaat anaknya mendapatkan masalah dan
membutuhkan solusi atau jalan keluar sehingga anak tidak merasa takut untuk
menceritakan masalahnya, orang tua pula harus memberikan pengertian dan
perhatian sebaik-baiknya, selalu terjalinnya komunikasi yang lancer dan baik
agar orang tua mengetahui apa saja yang dilakukan sang anak, serta wajib bagi
orang tua memberikan atau mencontohkan sauri tauladan dalam menekankan
bimbingannya.
Lingkungan
juga memengaruhi karakter dan tingkah laku sang anak, terkadang jika sang anak
bergaul di kalangan yang berpendidikan, pastilah sang anak akan berpendidikan,
bahkan berbudaya, ada pepatah yang berbicara “jika kita bergaul dengan penjual
minyak wangi pastilah kita juga akan kena wanginya”. Dari situ kita bisa ambil
makna jika anak bergaul dengan orang yang baik-baik, pastilah sang anak akan
bertindak baik-baik pula, dan sebaliknya jika sang anak bergaul dengan orang
yang bertindak negative atau tidak baik, terjadilah pola pikir atau tindakan
yang tidak baik pula. Tidak hanya peran orang tua dan lingkungan untuk bergaul
sang anak yang akan mempengaruhi remaja di era modern ini, terkadang teknologi
yang semakin canggih juga dapat merusak, mempengaruhi remaja, sebagai orang tua
yang tak ingin anaknya salah jalan atau terjerumus dalam silaunya dunia, orang
tua harus bisa mengarahkan bagaimana seharusnya teknologi dipakai dengan benar
serta mengawasi sang anak, dengan siapa dia bergaul, dan mengetahui apa saja
masalah yang terjadi pada sang anak.
LILIS
PUJIANTI
Mahasiswa
Fakultas Bahasa dan Sastra
Indonesia,
Universitas Swadaya Gunung Jati,
Cirebon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar